Gumbregan
merupakan upacara adat guna menyelamati hewan-hewan yang sering digunakan
untuk membantu petani dalam hal pengolahan pertanian. Hewan ini diselamati
agar ia selamat sehingga dapat mengerjakan kembali lahan pertanian pada musim
tanam berikutnya. Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan wuku Gumbre
, untuk lembu jatuh pada senin wage sedang untuk kerbau pada hari rabu
legi. Latar belakang dilaksanakannya upacara ini bahwa masyarakat
beranggapan bahwa seluruh hewan–hewan di dunia ini milik Kanjeng Nabi
Sulaiman.
Sulaiman.
Rangkaian sesaji upacara :
a. Jadah
aran yaitu ketan yang dikukus kemudian dipenak, ketan mempunyai sifat
pliket dimaksudkan agar tradisi ini melekat di masyarakat.
b. Among–among
yaitu nasi putih yang dibuat lancip, ukurannya kecil disekelilingnya terdapat
lauk pauk sebanyak dua buah.
c. Brokohan
yaitu semua hasil bumi, ketela pohon, gembili, kimpul, uwi, ubi jalar dll.
Makanan tersebut merupakan makanan bagi hewan yang disebut Gumbreg.
d. Aneka
kupat :
¶ Kupat
luwar bermakna untuk minta maaf
¶ Kupat
lepet dan kodok bermakna agar hewan itu jinak/lulut setelah selesai
upacara kupat tersebut digantung diatas pintu masuk keluar hewan/diatas
kandang.
e. Jenang
katul dimaksudkan agar hewan tersebut mengerti kepada majikannya
dan agar pemiliknya tidak semena–mena
kepada hewan piaraannya, caranya yaitu jenang katul tersebut dioles-oleskan
pada hewan lembu selanjtnya dimakan oleh hewan tersebut baik lembu maupun
kerbau.
Pelaksanaan upacara dilaksanakan malam hari setelah Isya kira–kira pukul 19.00 WIB. Jalannya upacara semua sesaji dikendurikan bersama dirumah Bapak Kadus, peserta upacara adalah kaum laki–laki si pemilik hewan atau anak laki-laki.
Puncak upacara Gumbregan pada akhir doa yang
dibacakan oleh pemimpin doa itu yang diakhiri dengan kata amin yang sangat
keras dan sekaligus peserta upacara ini berloncat dan berdiri
selanjutnya sesaji yang dibawa dimakan secara bersama–sama sedangkan
jenang katul dibawa pulang untuk diberikan kepada hewan piaraannya dan kupat
serta pala keendem dipasang di pintu kandang. Pada saat sekarang ini
upacara ini mengalami pergeseran karena ada masyarakat yang tidak
mempunyai hewan piaraannya.
No comments:
Post a Comment