Saturday, June 21, 2014

TRADISI GUMBREGAN




Gumbregan merupakan upacara adat guna menyelamati hewan-hewan yang  sering digunakan untuk membantu petani dalam hal pengolahan pertanian. Hewan ini diselamati agar ia selamat sehingga dapat mengerjakan kembali lahan pertanian pada musim tanam berikutnya. Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan wuku Gumbre , untuk lembu jatuh pada senin wage sedang untuk kerbau pada hari rabu legi. Latar belakang dilaksanakannya upacara ini bahwa masyarakat beranggapan bahwa seluruh hewan–hewan di dunia ini milik Kanjeng Nabi
Sulaiman.
Rangkaian sesaji upacara :
a.       Jadah aran yaitu ketan yang dikukus kemudian dipenak, ketan mempunyai sifat pliket dimaksudkan agar tradisi ini melekat di masyarakat.
b.      Among–among yaitu nasi putih yang dibuat lancip, ukurannya kecil disekelilingnya terdapat lauk pauk sebanyak dua buah.
c.       Brokohan  yaitu semua hasil bumi, ketela pohon, gembili, kimpul, uwi, ubi jalar dll. Makanan tersebut merupakan makanan bagi hewan yang  disebut  Gumbreg.
d.      Aneka kupat :
  Kupat luwar bermakna untuk minta maaf
  Kupat lepet dan kodok bermakna agar hewan itu jinak/lulut  setelah selesai upacara kupat tersebut digantung diatas pintu masuk keluar hewan/diatas kandang.
e.       Jenang katul dimaksudkan agar hewan tersebut mengerti kepada majikannya  dan        agar pemiliknya tidak semena–mena kepada hewan piaraannya, caranya yaitu jenang katul tersebut dioles-oleskan pada hewan lembu selanjtnya dimakan oleh hewan tersebut baik lembu maupun kerbau.

Pelaksanaan upacara dilaksanakan malam hari setelah Isya kira–kira pukul 19.00 WIB. Jalannya upacara  semua sesaji dikendurikan bersama dirumah Bapak Kadus, peserta upacara adalah kaum laki–laki si pemilik hewan atau anak laki-laki.
Puncak upacara Gumbregan pada akhir doa yang dibacakan oleh pemimpin doa itu yang diakhiri dengan kata amin yang sangat keras dan sekaligus peserta upacara ini  berloncat dan berdiri selanjutnya sesaji yang dibawa dimakan secara bersama–sama sedangkan jenang katul dibawa pulang untuk diberikan kepada hewan piaraannya dan kupat serta pala keendem dipasang di pintu kandang. Pada saat sekarang ini upacara ini mengalami pergeseran karena ada masyarakat yang tidak mempunyai hewan piaraannya.

No comments:

Post a Comment

PERSPEKTIF PANCASILA DALAM KAJIAN DINAMIKA POLITIK DI INDONESIA

PERSPEKTIF PANCASILA DALAM KAJIAN DINAMIKA POLITIK DI INDONESIA Oleh : Salvika Janti Lestari [*] ) Perspektif Pancasil...