Tingkeban
adalah suatu bentuk inisiasi, yaitu sarana yang digunakan
guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini, kecemasan calon orang tua
terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa mengandung, ketika
melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti. Maka dari itu,
dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama, menciptakan
suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini masih
diyakini oleh sebagian masya
rakat Gunungkidul.
rakat Gunungkidul.
Jauh-jauh
hari sebelum usia kandungan memasuki tujuh bulan, calon orang tua bayi harus
mementukan hari yang baik sesuai petungan Jawa. Selain penentuan hari yang
ada aturannya, segala ubo rampe atau
piranti juga sangat rumit pula. Masing-masing ritual ada piranti
sendiri-sendiri. Semua piranti tersebut disediakan bukan tanpa maksud. Dari
sumuanya memiliki werdi atau makna sendiri-sendiri.
Rangkaian upacara tingkeban tersebut dimulai dengan acara kenduri telon-telon yang dihadiri oleh tetangga, kerabat, sanak saudara dan lain-lain. Prosesi kedua yaitu Tingkeban yang dianggap sakral karena mulai dari hari sampai jam pelaksanaanya ditentukan dan tidak boleh dilanggar. Selanjutnya, upacara brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Kamaratih atau Arjuna dan Sembadra ke dalam sarung dari atas perut calon ibu. Tak lama berselang dari prosesi inti yaitu tingkeban maka langsung melanjutkan prosesi terakhir yaitu procotan.
Piranti Ritual Tingkeban
No comments:
Post a Comment