Saturday, June 21, 2014

UPACARA BABAD DALAN




http://erikandfiki.files.wordpress.com/2011/07/267887_229634257057643_100000332124469_775308_3788148_n.jpg?w=700&h=

Maksud dan Tujuan    : Mengenang/ memperingati cikal bakal Desa Sodo dan memohon                    
                                      keselamatan dan kesejahteraan bagi warga desa.
Makna Upacara           : Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan dan menggalang
kerukuna
n diantara warga masyarakat.
Tokoh Mitos                : Ki Ageng Giri
Lokasi Upacara           : Taman Parkir Ki Ageng Giring
Alamat                                    : Sodo, Paliyan, Gunungkidul
Waktu Pelaksanaan     : 1 tahun sekali, bulan April sampai dengan Mei

Desa Sodo menyimpan budaya yang cukup tua, setua Kerajan Demak Bintoro. Ini terbukti dengan adanya Makam Ki Ageng Giring, yang konon Ki Ageng Giring pernah menjadi murid Sunan Kalijaga. Beliau adalah kakak seperguruan Ki Ageng Pemanahan yang kemudian menurunkan raja-raja Mataram.
Dari sebuah buku cerita “Babad Tanah Jawa” disebutkan bahwa sang Guru (Sunan Kalijaga) memerintahkan kepada kedua muridnya agar menjalankan laku tirakat (thoriqot) untuk mendapatkan Pulunging Wahyu Kedaton. Ki Ageng Pemanahan disuruh tapa dibukit Girisekar (Panggang), sedangkan Ki Ageng Giring disuruh laku tirakat di Kali Gowang yang sekarang disebut Desa Giring.
Menurut cerita orang tua jaman dahulu  tradisi Babad Dalan bermula dari sebuah kisah ketika beberapa murid Ki Ageng Pandanaran di Tembayat telah selesai mencarai ilmu, maka beliau menyarankan kepada para muridnya agar melanjutkan berguru kepada Ki Ageng Giring. Karena Padepokan Ki Ageng Giring berada disebuah padukuhan kecil yang masih dipenuhi oleh semak belukar, maka murid-murid Ki Ageng Tembayat terpakasa harus membuat dan membersihkan semak belukar sebagai jalan menuju ke padepokan tersebut.
Oleh Ki Ageng Giring peristiwa ini disebut “Babad Dalan” Beliau membuat pranatan kepada siapa saja yang memasuki wilayah padukuhannya diharuskan mengucapkan dua kalimah syahadat. Namun karena lidah orang Jawa tidak terbiasa mengucapkan “Syahadat”, maka kalimat “Syahadat” tersebut diucapkan “Sodo”. Inilah lahirnya Desa Sodo, sekaligus munculnya upacara tradisi Babad Dalan yang pada awalnya oleh Ki Ageng Giring sebagai sarana dakwah di masa lalu.
Pada saat ini Babad Dalan adalah merupakan upacara ritual untuk mensyukuri hasil panen dan sekaligus sebagai ungkapan permohonan dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya dan sukerta. Upacara tradisi Babad Dalan mengambil hari Jum’at Kliwon sehabis panen dan dilaksanakan setahun sekali, sebagai lambang bahwa manusia harus berhubungan baik dengan alam, sesama manusia dan dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Babad Dalan merupakan adat yang menjadi aset desa dan dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan dan peningkatan perekonomian dan budaya desa. Hal ini terwujud apabila seluruh komponen desa dapat bersatu mencari titik temu guna mengembangkan dan meningkatkan kualitas peringatan tradisi tersebut dengan mengedepankan kepentingan masyarakat luas dan meninggalkan kepentingan golongan.

No comments:

Post a Comment

PERSPEKTIF PANCASILA DALAM KAJIAN DINAMIKA POLITIK DI INDONESIA

PERSPEKTIF PANCASILA DALAM KAJIAN DINAMIKA POLITIK DI INDONESIA Oleh : Salvika Janti Lestari [*] ) Perspektif Pancasil...