
Maksud dan Tujuan : Mengenang/ memperingati cikal bakal Desa Sodo dan memohon
keselamatan
dan kesejahteraan bagi warga desa.
Makna Upacara : Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan dan menggalang
Tokoh Mitos : Ki Ageng Giri
Lokasi Upacara : Taman Parkir Ki Ageng Giring
Alamat : Sodo, Paliyan, Gunungkidul
Waktu Pelaksanaan : 1 tahun sekali, bulan
April sampai dengan Mei
Desa Sodo menyimpan budaya yang cukup tua,
setua Kerajan Demak Bintoro. Ini terbukti dengan adanya Makam Ki Ageng Giring,
yang konon Ki Ageng Giring pernah menjadi murid Sunan Kalijaga. Beliau adalah
kakak seperguruan Ki Ageng Pemanahan yang kemudian menurunkan raja-raja
Mataram.
Dari sebuah buku cerita “Babad Tanah Jawa”
disebutkan bahwa sang Guru (Sunan Kalijaga) memerintahkan kepada kedua muridnya
agar menjalankan laku tirakat (thoriqot) untuk mendapatkan Pulunging Wahyu
Kedaton. Ki Ageng Pemanahan disuruh tapa dibukit Girisekar (Panggang),
sedangkan Ki Ageng Giring disuruh laku tirakat di Kali Gowang yang sekarang
disebut Desa Giring.
Menurut cerita orang tua jaman dahulu
tradisi Babad Dalan bermula dari sebuah kisah ketika beberapa murid Ki Ageng
Pandanaran di Tembayat telah selesai mencarai ilmu, maka beliau menyarankan
kepada para muridnya agar melanjutkan berguru kepada Ki Ageng Giring. Karena
Padepokan Ki Ageng Giring berada disebuah padukuhan kecil yang masih dipenuhi
oleh semak belukar, maka murid-murid Ki Ageng Tembayat terpakasa harus membuat
dan membersihkan semak belukar sebagai jalan menuju ke padepokan tersebut.
Oleh Ki Ageng Giring peristiwa ini disebut
“Babad Dalan” Beliau membuat pranatan kepada siapa saja yang memasuki wilayah
padukuhannya diharuskan mengucapkan dua kalimah syahadat. Namun karena lidah
orang Jawa tidak terbiasa mengucapkan “Syahadat”, maka kalimat “Syahadat”
tersebut diucapkan “Sodo”. Inilah lahirnya Desa Sodo, sekaligus munculnya
upacara tradisi Babad Dalan yang pada awalnya oleh Ki Ageng Giring sebagai
sarana dakwah di masa lalu.
Pada saat ini Babad Dalan adalah merupakan
upacara ritual untuk mensyukuri hasil panen dan sekaligus sebagai ungkapan
permohonan dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan,
dijauhkan dari mara bahaya dan sukerta. Upacara tradisi Babad Dalan mengambil
hari Jum’at Kliwon sehabis panen dan dilaksanakan setahun sekali, sebagai
lambang bahwa manusia harus berhubungan baik dengan alam, sesama manusia dan
dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Babad Dalan merupakan adat yang menjadi aset
desa dan dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan dan peningkatan
perekonomian dan budaya desa. Hal ini terwujud apabila seluruh komponen desa
dapat bersatu mencari titik temu guna mengembangkan dan meningkatkan kualitas
peringatan tradisi tersebut dengan mengedepankan kepentingan masyarakat luas
dan meninggalkan kepentingan golongan.
No comments:
Post a Comment